Rabu, 09 Mei 2012

Akhlak Makan dan Minum

Dalam sebuah hadis diriwayatkan bahwa ketika Rasulullah SAW melihat salah seorang cucunya mengambil makanan dengan tangan kirinya, beliau memberikan nasihat, ‘’Makanlah dengan menyebut nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah yang paling dekat darimu.'’ (HR Bukhari Muslim).
Ajaran Islam adalah ajaran yang mulia dan sempurna. Tidak hanya urusan ibadah, bernegara dan berpolitik yang norma dan akhlaknya telah ditetapkan oleh Islam, tetapi juga soal mengonsumsi makanan dan minuman. Ini membuktikan bahwa kualitas spiritual seorang Muslim tidak hanya dinilai dari semangatnya dalam ritual ibadah dan memperjuangkan politik yang beradab, tetapi juga dinilai dari kesempurnaan akhlaknya dalam mengonsumsi makanan dan minuman.
Paling tidak, ada tiga poin penting berkenaan dengan akhlak mengonsumsi makanan dan minuman. Pertama, berdoa dengan menyebut nama Allah ketika hendak memulai makan dan minum. Ini mengandung pengertian bahwa makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh manusia sesungguhnya adalah karunia Allah yang harus disyukuri. Ketika nama Allah disebut oleh orang yang hendak makan dan minum, berarti ia mengharap berkah dari makanan dan minuman yang akan dikonsumsi.
Kedua, menggunakan tangan kanan ketika makan dan minum. Dalam Islam, kanan adalah simbol kebajikan yang mengandung nilai terpuji. Karena itu, Rasulullah SAW senantiasa membiasakan yang kanan dalam setiap aktivitas kesehariannya, baik yang berhubungan dengan ibadah maupun akhlak. Secara kontekstual, pembiasaan tangan kanan dalam makan dan minum ini, dapat dimaknai pula sebagai perintah untuk selalu mendapatkan makanan dan minuman dengan cara yang baik dan terpuji. Makanan dan minuman harus mengandung kehalalan sempurna. Rasulullah SAW bersabda, ‘’Daging apa saja dalam tubuh manusia yang tumbuh dari makanan yang tidak halal, maka neraka lebih pantas baginya.'’
Ketiga, mengutamakan makanan atau minuman yang paling dekat. Adalah sangat indah dan santun ketika seorang Muslim lebih mengutamakan makanan yang paling mudah diraihnya daripada yang jauh dan sulit diraihnya walaupun lebih lezat dan menarik. Akhlak ini sesungguhnya mengandung esensi bahwa setiap Muslim dilarang bersikap tamak dan serakah sehingga selalu mengharap sesuatu yang tidak dimilikinya. Setiap Muslim diperintahkan untuk selalu menghiasi dirinya dengan sifat qana’ah, yaitu menerima dan merasa cukup sekaligus mensyukuri apa yang dimilikinya sebagai nikmat dari Allah. Rasulullah SAW bersabda, ‘’Bukanlah kekayaan itu dengan melimpahnya harta dan benda, melainkan kekayaan itu adalah kekayaan jiwa.'’ (HR Abu Ya’la).
Sahabat, ketika kita memahami makna membaca do’a sebelum makan, memakai tangan kanan dan meraih yang terdekat ketika makan… aneh rasanya jika kita berlebihan dan tidak peduli dengan kehalalan makanan yang kita konsumsi, baik zat maupun cara meraihnya. Sayangnya, banyak kaum muslim yang kurang peduli dengan hal ini. Makan secukupnya dan bertanya kehalalan makanan saat membeli mungkin merupakan hal yang biasa… tapi tidak berlebihan dalam mengkonsumsi dan bertanya kehalalan makanan saat menerima oleh-oleh makanan atau ditraktir teman / kantor rasanya jarang sekali kita lakukan. Kenapa?

Rabu, 02 Mei 2012

Untukmu Negeriku


13009022012118255283
Kulit Sampul : Dari Gramedia Online
Bung Hatta Lahir di Bukittinggi pada 12 Agustus 1902 dari Ayah “H Mohammad Djamil dan Ibu Saleha, menurut penilaianku beliau seorang yang kritis, taat beragama, setia kawan, baik hati, kutu buku, pandai berorganisasi dan juga humoris.
Untuk Negeriku terdiri dari : Buku ke 1  “MOHAMMAD HATTA : BUKITTINGGI - ROTTERDAM LEWAT BETAWI. Buku ke 2 Berjuang & Dibuang dan Buku ke 3 Menuju Gerbang. Kemerdekaan.
Walaupun belum selesai membaca Buku ke 1, yang bercerita tentang masa kecil di Bukittinggi, Sekolah di Padang dan sampai melanjutkan kuliah di Belanda, saya sangat terkagum-kagum akan pandangan Bung Hatta tentang berbagai hal antara lain masalah : Rente/Bunga, Pembagian harta berdasarkan garis keturunan Materelineal dan Patrineal yang digambarkan dengan sangat sederhana dan mudah dipahami.
Pendekatan Bung Hatta kepada keluarga besar Ayah maupun keluarga besar Ibu patut dicontoh, membuat beliau sangat disayang, baik oleh keluarga Bapak (Bako) dari Nagari Batuhampar, Kabupaten Lima Puluh Kota maupun dari keluarga Ibu, pengusaha terpandang dari Bukittinggi.
Jika anda pernah mendengar Nagari Koto Gadang di Bukittinggi, tempat kelahiran H Agus Salim dan pemimpin-pemimpin di awal kemerdekaan, adalah suatu hal yang pantas mereka jadi pintar, karena masyarakat Koto Gadang sudah melek pendidikan sejak tahun 1908. Mereka punya prinsip bahwa untuk sukses dunia dan akhirat harus sekolah, tidak cukup hanya mengaji di surau.
Anak-anak Koto Gadang jalan kaki pulang pergi mendaki Bukit ke Bukittinggi sejauh 10 KM untuk sekolah. Wali Nagari Koto Gadang “Datuk Kayo”, mendirikan “Studiefonds Koto Gadang (Dana Belajar Koto Gadang), bea siswa untuk anak-anak Koto Gadang melajutkan pendidikan ke Jawa dan bila perlu ke Eropa. Luar biasa !
Bicara tentang organisasi dimana Bung Hatta bertindak sebagai Bendahara pada perkumpulan sepak bola “Swallow” dan Bendahara Jong Sumatranen Bond Cabang Padang. Dalam kedua organisasi ini, ada saja anggota yang enggan membayar iuran. Bung Hatta menolak dengan tegas aturan disiplin yang ketat tentang iuran ini. Serahkan saja kepada rasa tanggung jawab anggota masing-masing.
Diatas Kapal di Teluk Bayur menuju Betawi tuk sekolah, tiba-tiba Tuan Le Febvre Residen Sumatera Barat meminta beratus-ratus karung beras yang telah dimuat untuk diturunkan. Saya tidak mau rakyat saya kekurangan beras, begitu alasannya.  Ternyata, banyak juga Belanda yang baik ya!. Masih banyak contoh Belanda baik dalam buku ini.
Saat sekolah di Betawi Bung Hatta memimpin penerbitan sebuah Majalah untuk kalangan pelajar yang berisi propaganda melawan tindakan Belanda yang tidak manusiawi seperti memungut pajak dll.
Disiplin Bung Hatta dalam belajar dan berleha-leha setiap malam minggu di Pasar Baru seraya menonton dan makan nasi Goreng enak untuk disimak.
Tentang dunia perniagaan, ternyata urang awak sudah menjadi pedagang besar tahun 1920 yaitu Mak Etek Ayub (Mamak Bung Hatta) . Ditempat Mak Etek Ayub (Kali Besar)  ini saat vakansi Bung Hatta mempraktekan ilmu ekonomi yang dipelajarinya di Sekolah Prins Hendrik School (PHS) bagian dagang.  Dalam satu transaksi Mak Etek Ayub untung f 10.000 dan semuanya diberikan kepada Bung Hatta. Simpan saja di Bank untuk persiapan belajar di Rotterdam/Belanda.
Pemberian itu ditolak oleh Bung Hatta, lebih baik Mamak putarkan saja untuk perniagaan, jawab Bung Hatta. Bung Hatta juga pernah diminta menyetor uang ke Bank sejumlah f 100.000, pengalaman pertama melihat uang begitu banyak., lembaran f 1.000 dan terkecil lembaran f 25. Sebagai gambaran, uang jajan Bung Hatta saat itu perbulan f 75. Banyak bukan ! Bagaimana cara dagang Mak Etek Ayub yang  dikritik oleh Bung Hatta dan diaminkan oleh H Agus Salim ?. Ini dagang Spekulasi dan model Kapitalis, kata Bung Hatta.
Kisah sukses Mak Etek Ayub bermula karena kejujuran dan keuletannya saat jadi pembantu seorang Saudagar Jerman yang kembali ke Eropa. Asset si Jerman ini diserahkan ke Mak Etek Ayub.
Setamat sekolah PHS, Bung Hatta bimbang antara melanjutkan sekolah ke Belanda atau bekerja karena saat itu lowongan pekerjaan berlimpah dengan gaji menggiurkan sebesar f 525 perbulan, jauh lebih besar dari gaji orang lain sebesar f 300. Akhirnya, Bung Hatta memilih sekolah. Apa alasannya ?.. Aku lupa. Ada dalam buku he he he.
Sebelum berangkat, teman-teman yang akan ke Belanda sudah dapat bea siswa sedangkan Bung Hatta tidak tahu informasi tentang bea siswa ini dan permohonan bea siswa dari pemerintah Belanda sudah ditutup. Atas bantuan Guru orang Belanda, Bung Hatta dikenalkan dengan orang Belanda yang dapat mengurus bea siswa swasta.
Saat Bung Hatta berkunjung, ke rumahnya, si Belanda ini ngeledek. Kenapa selama ini kamu nggak pernah datang ?. Kalau ada maunya baru datang. Bung Hatta menjawab Diplomatis. Bung Hatta disarankan untuk berangkat ke Belanda dan akan diusahakan Bea siswa berlaku mundur. Ternyata janji ini benar dan cerita bea siswa ada pada bagian “Tiba di Negeri Belanda”.
Sebelum berangkat ke Belanda, Bunga Hatta berjanji akan mengirimkan tulisan (Kolom) ke Surat Kabar Neratja pimpinan Kasuma St Pamuntjak, namun minta honor f 5 perkolom, lebih besar dari biasanya f 2,50 per kolom. Permintaan ini disetujui.
Bung Hatta berangkat ke Belanda naik kapal dari Teluk Bayur tuk menempuh pelayaran selama 1 (satu) bulan. Banyak cerita lucu selama perjalanan, saat kapal bersandar dipelabuhan Port Said, seorang mahasiswa dari Surabaya tidak mau membayar hasil ramalan peramal yang naik ke atas Kapal. Alasannya, seharusnya kamu sudah bisa meramal bahwa saya tidak akan bersedia membayar, kata si mahasiswa ini. Si Peramal jengkel dan sambil berlalu mengatakan bahwa kamu besok akan meninggal. Si Mahasiswa jadi ketakutan tak bisa tidur, akhirnya dibujuk oleh teman-temannya bahwa itu hanya bohongan ha ha ha.
Sewaktu Kapal berhenti di Marseille, Prancis. Bung Hatta yang bisa bahasa Prancis jadi Guide keluarga Portier, si Belanda yang pulang cuti untuk jalan-jalan di kota Marseille. Si Portier ini nggak bisa bahasa Prancis dan nggak tahu jalan. Bung Hatta dapat makan, minum dan semua ongkos dibayarin. Gratis nggak bayar. Panjang akalnya ha ha ha.
Cerita Bung Hatta kuliah di Handels-Hogeschool Belanda sangat menarik untuk disimak, ada beberapa orang Indonesia yang jadi pembantu Dosen, ketemu Kakak R.A Kartini yang sangat pintar. Buku ini juga menceritakan siapa itu : dr. Soetomo. Dr. Sardjito, Hermen Kartawisastra, Nazir Pamontjak, Achmad Soebardjo, Sukiman Wirjosandjojo, Darmawan Mangoenkoesoemo, pengurus Perhimpunan Indonesia. Lagi-lagi di Perhimpunan ini Bung Hatta menjabat Bendahara dan diberi tugas untuk menerbitkan Majalah Hindia Poetra.
Memborong Buku
Cerita lain yang menarik adalah ketika Bung Hatta dan teman-temannya ke Jerman saat liburan Natal. Waktu itu terjadi inflasi besar-besar di Jerman dimana 1 Gulden sama dengan 100 Mark. Sebelumnya, satu Mark sama dengan 60 sen Gulden.Di Jerman Bung Hatta memborong buku saking murahnya. Buku “Kapital und Kapitalzins setebal 1.400 halaman hanya 1,72 Gulden. Sebagai perbandingan, biaya makan sehari di Belanda adalah 3 Gulden. Buku yang dibeli dikirim oleh toko Buku ke Rotterdam berkat bantuan Universitas Humburg.
Cerita lucu di Jerman ketika Bung Hatta minum Air Es di Café, sementara teman-temannya memesan Bir. Ketika dibayar, ternyata Air Es jauh lebih mahal dari Bird an Bung Hatta mesem-mesem saja diketawain teman-temannya ha ha ha.
Cerita lain tentang : Antara Politik dan Kuliah, Lebih Aktif Dalam Politik dan Penangkapan serta Hubungan Dengan Dunia International, baca sendiri ya !.
Jujur, aku juga belum membaca buku ke Buku ke 2 Berjuang & Dibuang dan Buku ke 3 Menuju Gerbang Kemerdekaan. Aku yakin, pasti seru dan harapanku ada teman-teman Kompasianer yang bersedia membuat ringkasannya. Gantian donk ! he he he

Hadist

Para muhadditsin (ulama ahli hadits) berbeda pendapat di dalam mendefinisikan al-hadits. Hal itu karena terpengaruh oleh terbatas dan luasnya objek peninjauan mereka masing-masing. Dari perbedaan sifat peninjauan mereka itu, lahirlah dua macam pengertian tentang hadits, yaitu pengertian yang terbatas di satu pihak dan pengertian yang luas di pihak lain.

Dalam definisi atau pengertian (ta’rif) yang terbatas, mayoritas ahli hadis berpendapat sebagai berikut. "Al-hadits ialah sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad saw., yaitu berupa perkataan, perbuatan, pernyataan, dan yang sebagainya."

Definisi ini mengandung empat macam unsur: perkataan, perbuatan, pernyataan, dan sifat-sifat atau keadaan-keadaan Nabi Muhammad saw. yang lain, yang semuanya hanya disandarkan kepada Nabi Muhammad saw. saja, tidak termasuk hal-hal yang disandarkan kepada sahabat dan tidak pula kepada tabi'in. Pemberitaan tentang empat unsur tersebut yang disandarkan kepada Nabi Muhammad saw. disebut berita yang marfu', yang disandarkan kepada para sahabat disebut berita mauquf, dan yang disandarkan kepada tabi'in disebut maqthu'.

1. Perkataan

Yang dimaksud dengan perkataan Nabi Muhammad saw. ialah perkataan yang pernah beliau ucapkan dalam berbagai bidang: syariat, akidah, akhlak, pendidikan, dan sebagainya. Contoh perkataan beliau yang mengandung hukum syariat seperti berikut. Nabi Muhammad saw. bersabda (yang artinya), "Hanya amal-amal perbuatan itu dengan niat, dan hanya bagi setiap orang itu memperoleh apa yang ia niatkan ... (dan seterusnya)." Hukum yang terkandung dalam sabda Nabi tersebut ialah kewajiban niat dalam seala amal perbuatan untuk mendapatkan pengakuan sah dari syara'.

2. Perbuatan

Perbuatan Nabi Muhammad saw. merupakan penjelasan praktis dari peraturan-peraturan yang belum jelas cara pelaksanaannya. Misalnya, cara cara bersalat dan cara menghadap kiblat dalam salat sunah di atas kendaraan yang sedang berjalan telah dipraktikkan oleh Nabi dengan perbuatannya di hadapan para sahabat. Perbuatan beliau tentang hal itu kita ketahui berdasarkan berita dari sahabat Jabir r.a., katanya, "Konon Rasulullah saw. bersalat di atas kendaraan (dengan menghadap kiblat) menurut kendaraan itu menghadap. Apabila beliau hendak salat fardu, beliau turun sebentar, terus menghadap kiblat." (HR Bukhari).

Tetapi, tidak semua perbuatan Nabi saw. itu merupakan syariat yang harus dilaksanakan oleh semua umatnya. Ada perbuatan-perbuatan Nabi saw. yang hanya spesifik untuk dirinya, bukan untuk ditaati oleh umatnya. Hal itu karena adanya suatu dalil yang menunjukkan bahwa perbuatan itu memang hanya spesifik untuk Nabi saw. Adapun perbuatan-perbuatan Nabi saw. yang hanya khusus untuk dirinya atau tidak termasuk syariat yang harus ditaati antara lain ialah sebagai berikut.

a. Rasulullah saw. diperbolehkan menikahi perempuan lebih dari empat orang, dan menikahi perempuan tanpa mahar. Sebagai dalil adanya dispensasi menikahi perempuan tanpa mahar ialah firman Allah (yang artinya) sebagai berikut. "... dan Kami halalkan seorang wanita mukminah menyerahkan dirinya kepada Nabi (untuk dinikahi tanpa mahar) bila Nabi menghendaki menikahinya, sebagai suatu kelonggaran untuk engkau (saja), bukan untuk kaum beriman umumnya." (Al-Ahzab: 50).

b. Sebagian tindakan Rasulullah saw. yang berdasarkan suatu kebijaksanaan semata-mata, yang bertalian dengan soal-soal keduniaan: perdagangan, pertanian, dan mengatur taktik perang. Misalnya, pada suatu hari Rasulullah saw. pernah kedatangan seorang sahabat yang tidak berhasil dalam penyerbukan putik kurma, lalu menanyakannya kepada beliau, maka Rasulullah menjawab bahwa "kamu adalah lebih tahu mengenai urusan keduiaan". Dan, pada waktu Perang Badar Rasulullah menempatkan divisi tentara di suatu tempat, yang kemudian ada seorang sahabat yang menanyakannya, apakah penempatan itu atas petunjuk dari Allah atau semata-mata pendapat dan siasat beliau. Rasulullah kemudian menjelaskannya bahwa tindakannya itu semata-mata menurut pendapat dan siasat beliau. Akhirnya, atas usul salah seorang sahabat, tempat tersebut dipindahkan ke tempat lain yang lebih strategis.

c. Sebagian perbuatan beliau pribadi sebagai manusia. Seperti, makan, minum, berpakaian, dan lain sebagainya. Tetapi, kalau perbuatan tersebut memberi suatu petunjuk tentang tata cara makan, minum, berpakaian, dan lain sebagainya, menurut pendapat yang lebih baik, sebagaimana dikemukakan oleh Abu Ishaq dan kebanyakan para ahli hadis, hukumnya sunah. Misalnya, "Konon Nabi saw. mengenakan jubah (gamis) sampai di atas mata kaki." (HR Al-Hakim).

3. Taqrir

Arti taqrir Nabi ialah keadaan beliau mendiamkan, tidak mengadakan sanggahan atau menyetujui apa yang telah dilakukan atau diperkatakan oleh para sahabat di hadapan beliau. Contohnya, dalam suatu jamuan makan, sahabat Khalid bin Walid menyajikan makanan daging biawak dan mempersilakan kepada Nabi untuk menikmatinya bersama para undangan.
Rasulullah saw. menjawab, "Tidak (maaf). Berhubung binatang ini tidak terdapat di kampung kaumku, aku jijik padanya!"
Kata Khalid: "Segera aku memotongnya dan memakannya, sedang Rasulullah saw. melihat kepadaku." (HR Bukhari dan Muslim).

Contoh lain adalah diamnya Nabi terhadap perempuan yang keluar rumah, berjalan di jalanan pergi ke masjid, dan mendengarkan ceramah-ceramah yang memang diundang untuk kepentingan suatu pertemuan.

Adapun yang termasuk taqrir qauliyah yaitu apabila seseorang sahabat berkata "aku berbuat demikian atau sahabat berbuat berbuat begitu" di hadapan Rasul, dan beliau tidak mencegahnya. Tetapi ada syaratnya, yaituperkataan atau perbuatan yang dilakukan oleh seorang sahabat itutidak mendapat sanggahan dan disandarkan sewaktu Rasulullah masih hidup dan orang yang melakukan itu orang yang taat kepada agama Islam. Sebab, diamnya Nabi terhadap apa yang dilakukan atau diucapkan oleh orang kafir atau munafik bukan berarti menyetujuinya. Memang sering nabi mendiamkan apa-apa yang diakukan oleh orang munafik lantaran beliau tahu bahwa banyak petunjuk yang tidak memberi manfaat kepadanya.

4. Sifat-Sifat, Keadaan-Keadaan, dan Himmah (Hasrat) Rasulullah

Sifat-sifat beliau yang termasuk unsur al-hadits ialah sebagai berikut.

a. Sifat-sifat beliau yang dilukiskan oleh para sahabat dan ahli tarikh (sejarah), seperti sifat-sifat dan bentuk jasmaniah beliau yang dilukiskan oleh sahabat Anas r.a. sebagai berikut. "Rasulullah itu adalah sebaik-baik manusia mengenai paras mukanya dan bentuk tubuhnya. Beliau bukan orang tinggi dan bukan pula orang pendek." (HR Bukhari dan Muslim).

b. Silsilah-silsilah, nama-nama, dan tahun kelahiran yang telah ditetapkan oleh para sahabat dan ahli sejarah. Contoh mengenai tahun kelahiran beliau seperti apa yang dikatakan oleh Qais bin Mahramah r.a. "Aku dan Rasulullah saw. dilahirkan pada tahun gajah." (HR Tirmizi).

c. Himmah (hasrat) beliau yang belum sempat direalisasi. Misalnya, hasrat beliau untuk berpuasa pada tanggal 9 Asyura, seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas r.a. "Tatkala Rasulullah saw. berpuasa pada hari Asyura dan memerintahkan untuk dipuasai, para sahabat menghadap kepada Nabi, mereka berkata, 'Ya Rasulullah, bahwa hari ini adalah yang diagungkan oleh orang Yahudi dan Nasrani.' Sahut Rasulullah, 'Tahun yang akan datang, Insya Allah aku akan berpuasa tanggal sembilan'." (HR Muslim dan Abu Daud). Tetapi, Rasulullah tidak menjalankan puasa pada tahun depan karena wafat. Menurut Imam Syafii dan rekan-rekannya, menjalankan himmah itu disunahkan, karena ia termasuk salah satu bagian sunah, yakni sunnah hammiyah.

Ringkasnya, menurut ta'rif (definisi) yang terbatas yang dikemukakan oleh mayoritas ahli hadis di atas, pengertian hadis itu hanya terbatas pada segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad saw. saja, sedang segala sesuatu yang disandarkan kepada sahabat, tabi'in, atau tabi'it tabi'in, tidak termasuk al-hadits.

Dengan memperhatikan macam-macam unsur hadis dan mana yang harus didahulukan mengamalkannya, bila ada perlawanan antara unsur-unsur tersebut, mayoritas ahli hadis membagi hadis berturut-turut sebagai berikut.
a. Sunnah qauliyah,
b. Sunnah fi'liyah,
c. Sunah taqririyah, dan
d. Sunnah hammiyah.

(Sumber: Diadaptasi dari Ikhtisar Mushthalahul Hadits, Drs. Fatchur Rahman)

Mereka bertaruh nyawa, meniti tali temali di atas Sungai Ciberang untuk sampai ke sekolah.

Media Inggris, Daily Mail, menuliskan sebuah artikel yang menggambarkan betapa beratnya perjalanan para pelajar Indonesia menuju ke sekolah. Harian ini bahkan menyamakan aksi mereka dengan adegan berbahaya di film Indiana Jones.
Pada foto-foto yang diambil oleh Reuters, terlihat beberapa orang pelajar SMP dan SD di kampung Tanjung, Lebak, Banten, meniti sebuah jembatan rusak yang hanya dihubungkan dengan satu tali terbentang di atas Sungai Ciberang.
Merayap perlahan-lahan, mereka berusaha untuk tidak tergelincir masuk ke dalam sungai Ciberang yang berarus deras dan dalam. Sungai ini kerap digunakan para wisatawan untuk olah raga arung jeram.
Pegangan mereka hanyalah tali dan kayu-kayu sisa-sisa jembatan. Daily Mail menuliskan, anak terkecil yang pernah menyeberang berusia lima tahun. Penyeberangan menjadi semakin berbahaya jika sungai Ciberang diterpa banjir. Titian tali bisa terendam air dan putus terbawa arus.
“Aksi mereka seperti aksi di salah satu adegan di film Indiana Jones and The Temple of Doom,” tulis Daily Mail.
Para pelajar mengaku lebih memilih menghadapi bahaya meniti tali ketimbang harus berjalan setengah jam lamanya ke jembatan yang lebih bagus. Jika mereka mencari aman, maka harus bangun pagi-pagi buta dan pulang ketika hari sudah gelap. (cc)
Ironi sekali bila kita melihat dengan besarnya dana yang digunakan untuk renovasi Ruang Rapat Banggar DPR RI  yang menelan dana Rp 20 M.
Hemmmm….. lucunya negeri ini … yang katanya wakil rakyat tapi tidak pernah mewakili rakyat…………..