Rabu, 09 Mei 2012

Akhlak Makan dan Minum

Dalam sebuah hadis diriwayatkan bahwa ketika Rasulullah SAW melihat salah seorang cucunya mengambil makanan dengan tangan kirinya, beliau memberikan nasihat, ‘’Makanlah dengan menyebut nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah yang paling dekat darimu.'’ (HR Bukhari Muslim).
Ajaran Islam adalah ajaran yang mulia dan sempurna. Tidak hanya urusan ibadah, bernegara dan berpolitik yang norma dan akhlaknya telah ditetapkan oleh Islam, tetapi juga soal mengonsumsi makanan dan minuman. Ini membuktikan bahwa kualitas spiritual seorang Muslim tidak hanya dinilai dari semangatnya dalam ritual ibadah dan memperjuangkan politik yang beradab, tetapi juga dinilai dari kesempurnaan akhlaknya dalam mengonsumsi makanan dan minuman.
Paling tidak, ada tiga poin penting berkenaan dengan akhlak mengonsumsi makanan dan minuman. Pertama, berdoa dengan menyebut nama Allah ketika hendak memulai makan dan minum. Ini mengandung pengertian bahwa makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh manusia sesungguhnya adalah karunia Allah yang harus disyukuri. Ketika nama Allah disebut oleh orang yang hendak makan dan minum, berarti ia mengharap berkah dari makanan dan minuman yang akan dikonsumsi.
Kedua, menggunakan tangan kanan ketika makan dan minum. Dalam Islam, kanan adalah simbol kebajikan yang mengandung nilai terpuji. Karena itu, Rasulullah SAW senantiasa membiasakan yang kanan dalam setiap aktivitas kesehariannya, baik yang berhubungan dengan ibadah maupun akhlak. Secara kontekstual, pembiasaan tangan kanan dalam makan dan minum ini, dapat dimaknai pula sebagai perintah untuk selalu mendapatkan makanan dan minuman dengan cara yang baik dan terpuji. Makanan dan minuman harus mengandung kehalalan sempurna. Rasulullah SAW bersabda, ‘’Daging apa saja dalam tubuh manusia yang tumbuh dari makanan yang tidak halal, maka neraka lebih pantas baginya.'’
Ketiga, mengutamakan makanan atau minuman yang paling dekat. Adalah sangat indah dan santun ketika seorang Muslim lebih mengutamakan makanan yang paling mudah diraihnya daripada yang jauh dan sulit diraihnya walaupun lebih lezat dan menarik. Akhlak ini sesungguhnya mengandung esensi bahwa setiap Muslim dilarang bersikap tamak dan serakah sehingga selalu mengharap sesuatu yang tidak dimilikinya. Setiap Muslim diperintahkan untuk selalu menghiasi dirinya dengan sifat qana’ah, yaitu menerima dan merasa cukup sekaligus mensyukuri apa yang dimilikinya sebagai nikmat dari Allah. Rasulullah SAW bersabda, ‘’Bukanlah kekayaan itu dengan melimpahnya harta dan benda, melainkan kekayaan itu adalah kekayaan jiwa.'’ (HR Abu Ya’la).
Sahabat, ketika kita memahami makna membaca do’a sebelum makan, memakai tangan kanan dan meraih yang terdekat ketika makan… aneh rasanya jika kita berlebihan dan tidak peduli dengan kehalalan makanan yang kita konsumsi, baik zat maupun cara meraihnya. Sayangnya, banyak kaum muslim yang kurang peduli dengan hal ini. Makan secukupnya dan bertanya kehalalan makanan saat membeli mungkin merupakan hal yang biasa… tapi tidak berlebihan dalam mengkonsumsi dan bertanya kehalalan makanan saat menerima oleh-oleh makanan atau ditraktir teman / kantor rasanya jarang sekali kita lakukan. Kenapa?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar